"Hmm... Dia lagi..!" Keluhku dalam hati.
Keluhan dalam hati yang mengukir senyuman dari bibirku mengundang berjuta tanya dari Tyas sahabatku.
"Kenapa sih Vit, kok senyum-senyum?"
Aku kembali tersenyum, ingin rasanya menceritakan padanya bahwa aku sungguh bahagia. Entahlah, senyuman itu membawa semangat tersendiri untukku. Namun, aku paham sekali bahwa aku harus menyembunyikan rasa itu sampai waktu yang tepat nanti.
***
Hari berikutnya, saat jam istirahat tiba, saat semua teman-teman sedang asyik bercanda di depan kelasnya masing-masing. Tiba-tiba...
Brukk... Tubuhku terdorong keras ke lantai kelas. Nasi pecel yang kubeli di warung mang Ujang terhambur seketika, sambalnya memenuhi kerudung putihku, habislah semuanya, kerudungku penuh bercak sambal dimana-mana.
"Ma-af Vit.. A-a-aku tidak sengaja.." Ucap seorang anak laki-laki yang menabrakku terbata-bata seraya mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun.
"Cie..cie..cie.
Terdengar suara serempak menggema ditelingaku, celoteh nyaring dari teman-teman yang rupanya daritadi memperhatikan dengan jelas kejadian yang baru saja kami alami. Dalam hitungan detik aku berlari meninggalkan tempat itu, masuk kelas dan menutup pintu. Baru kusadari uluran tangan itu tak lagi kuhiraukan. Aku malu sekali.
***
"Sudahlah Vit, biasa saja.. Kasian dia, ayo balas surat darinya." Tyas kembali membujukku untuk menulis sepatah atau dua patah kata.
Aku hanya diam. Pikirku, kejadian itu sudah berlalu dan tidak perlu diperpanjang lagi. Aku pun sudah memaafkannya. Namun, menurut Tyas aku tetap harus membalas surat itu sebagai bentuk pemberitahuan bahwa aku sudah memaafkannya.
***
Sepucuk surat singkat...
Teruntuk Resvita Maharani..
Assalamua'alaik
Vit, maafkan kesalahanku ya.. Sungguh, aku tidak sengaja menabrakmu. Maafkan juga atas senyumku beberapa hari yang lalu, aku tau kamu perempuan yang berbeda, yang sangat menjaga diri dari hal-hal yang tidak halal. Aku tidak akan mengganggumu lagi Vit, sekali lagi maafkan aku.
Wassalam..
Bayu Anggara
***
"Hei...lagi ngapain sih say..serius banget, apaan sih itu?" Ucap seorang laki-laki mendekatiku seraya merebut surat yang ku pegang.
"Haa.. Ini kan tulisan tanganku dulu, kamu masih menyimpan ini rupanya..." Ucapnya dengan nada terkejut dan kening berkerut.
"Kamu sudah memaafkanku kan say...?" Lanjutnya lagi dengan raut muka tidak percaya sambil melempar senyum manis padaku.
Aku hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaannya, senyuman ikhlas dan ridha karena sudah menjadi pendamping hidupnya.
***
Flash Fiction FLP Amuntai
Tema : Senyum
Oleh : Wina Novitasari
Oleh : Wina Novitasari
0 komentar:
Posting Komentar