Baru aku mau keluar kamar, Uma telah berdiri didepan pintu dengan tatapannya melototi ku tidur di atas sajadah.
“ Iman, sudah Uma bilang, kalau mau tidur jangan jadikan sajadah buat alas tidurmu, itukan buat sholat “
“ tapi, Iman Tidak tidak tidur Ma “ jawabku sekenanya.
“ meskipun kamu tidak tidur, nanti kamu ketiduran, sini “
Uma menarik paksa sajadah yang kujadikan alas tidur, yang kujawab dengan cemberut. ini kali yang ketika aku menjadikan sajadah Uma buat tidur, soalnya sajadahnya enak, tebal, lebar,bulunya lembut seperti kucing anggora. Pokoknya kukatakan itu bukan sajadah. Tapi enak buat alas tidur. Tapi uma sengaja membelinya dengan harga sangat mahal Cuma buat dipake solat, kan sayang pikirku. Bahkan kami penah berdebat, kukatakan buat apa punya sajadah yang bagus kalau manfaatnya Cuma dipakai buat sholat fardhu saja. Apalagi salatnya bisa malah ditunda-tunda, atau slalatnya di qadha. Sebenarnya aku bilang seperti itu Cuma buat nyindir kaka. Tapi uma tersinggung hingga membuatnya marah dan tidak menyapaku satu hari penuh, gara-gara sajadah saja. Pusingg.
Hingga suatu ketika ada kabar bahwa ayah akan pulang dari pulang jawa. Hari itupun tiba. aku dengan baju gamisku pagi-pagi telah menunggunya di depan pintu. Beberapa saat kemudian dari kejauhan ku lihat seorang lelaki bertubuh tegap dengan jaket hitamnya yang gagah. Ayaaahhh" segera ku lambaikan kedua tanganku seraya memanggil ayah yang selama ini kurindukan. Aku pun berlari menghampirinya,
FF (Flash Fiction)
Tema : Sajadah
by : Hamdani
0 komentar:
Posting Komentar