Home » » Mana Senyummu Frida?

Mana Senyummu Frida?

Written By fffll on Sabtu, 30 November 2013 | 18.18


Fatma bingung, Frida, sang ketua kelas, berubah menjadi pendiam dan pemurung. Biasanya dia yang paling aktif di kelas. Frida selalu mengacungkan tangan saat Fatma meminta siswa-siswanya untuk mengerjakan soal di papan tulis. Frida juga yang sering menceritakan kisah-kisah lucu dan membuat teman-teman sekelasnya tertawa terpingkal-ping
kal.

Tapi sejak kemarin, Frida benar-benar berubah. Dia hanya diam saat Fatma mengajukan pertanyaan kepadanya. Ketika Fatma memberikan penjelasan tentang materi pun Frida terlihat melamun. Mulanya Fatma mengira Frida sedang sakit, tapi ternyata setelah dicek, suhu badannya normal.

“Frida, ada apa, Nak?” tanya Fatma. Frida hanya diam. Saat itu waktu istirahat, semua teman Frida meninggalkan kelas sementara Frida hanya duduk dan menelungkupkan wajahnya di atas meja. Fatma semakin yakin ada suatu hal yang terjadi pada anak kelas 1 MI itu.

Fatma mengelus rambut Frida. “Frida sakit?”

Frida mengangkat wajahnya dan menggeleng.

“Kok akhir-akhir ini Frida jadi pemurung? Frida bertengkar dengan teman sekelas?” Fatma mencoba mengorek informasi dari Frida. Lagi-lagi anak itu menggeleng.

“Lalu?” tanya Fatma lagi.

Frida menunduk. Tak ada tanda-tanda Frida akan bicara. Fatma jadi rindu dengan Frida yang aktif dan lincah seperti beberapa hari yang lalu. Walapun kadang-kadang Fatma kewalahan karena Frida kadang suka mengisengi teman sekelasnya.

“Kalau Frida punya masalah, ibu siap membantu Frida.”

Kali ini Fatma melihat Frida mulai menggerak-gerakan tangannya di atas meja. Anak itu sepertinya bingung, memilih bercerita atau tetap diam saja seperti semula. Fatma menunggu.

“Ibu janji tak akan bilang ke siapa-siapa,” kata Fatma lagi dengan wajah meyakinkan.

“Nggg…” Frida lagi-lagi menunduk. “Frida … Frida malu,” ujarnya.

Fatma lega, akhirnya anak itu mau bicara. “Malu?”

“Lihat, Bu … gigi Frida ompong,” katanya sambil memperlihatkan gigi-giginya. Dua gigi depannya tanggal. Fatma tertegun, ternyata ini masalahnya.

“Kan nanti juga tumbuh,” kata Fatma lembut.

“Tumbuhnya lama, Bu. Nanti teman-teman nertawain aku,” katanya lagi.

“Teman-temanmu pasti tidak akan menertawakan. Buktinya ketika gigi Syifa dan Mirza tanggal kan tidak ada yang menertawakan. Frida itu tetap manis apalagi kalau senyum. Kalau Frida uring-uringan, cemberut terus, teman-teman malah takut deket-deket Frida. Coba senyum, ibu mau lihat.”

Frida tersenyum dan memperlihatkan ompongnya. “Nah… gitu lebih manis. Giginya pasti mau cepet-cepet tumbuh, soalnya Frida kan sekarang sudah jadi manis lagi." Frida kembali tertenyum, kali ini lebih tulus dari sebelumnya.

TAMAT
Flash Fiction FLP Amuntai
Tema : Senyum
Oleh : Sina Khairana
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Tentang Kami : Admin Blog | Grub FLP | Fp FLP
Copyright © 2013. FLP Cabang Amuntai - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger